Konsultasi

Januari 19, 2009

Silahkan, bila ada pertanyaan ataupun konsultasi… kepada dokter siapa ditujukan pertanyaan, silahkan ditulis…

apakah ke dokter Penyakit Dalam, ke dokter Anak, ke dokter Bedah, ke dokter Syaraf, ke dokter THT, ke dokter Kandungan…..

Aku mau jadi koruptor

Juli 18, 2008

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah bicara kepada isteri saya bahwa Kejaksaan sebaiknya dibubarkan saja, karena menghabiskan uang negara untuk menggaji pegawainya. Tentu saja isteri saya menanggapinya dengan marah. Saat ini, mungkin banyak rakyat Indonesia yang marah, mendongkol, dan kecewa telah menjadi Warga Negara Indonesia.

Kita sama-sama mengikuti perkembangan persidangan Tipikor dengan terdakwa Artalyta Ayin. Siapa yang tidak gemas? Bukan gemas karena melihat Artalyta Ayin cantik menarik, imut, enak dipandang mata. Sungguh gemas dan geram, ternyata para tokoh publik tersohor di bibir Artalyta Ayin yang manis cukup disebut dengan “si”: “si Buyung”, “si Urip”, “si Joker”, “si Antasari”, “si Wisnu”, dan mungkin masih banyak “si Anu” yang belum terungkap. Sungguh ingin rasanya sayapun menjadi seorang koruptor, bisa terkenal, bisa disebut oleh bibir manis Artalyta Ayin dengan sebutan “si Yanto”, kalau saya mau dipanggil untuk diperiksa maka pengacaraku tinggal menyodorkan surat keterangan sakit, sakit panu, sakit gigi, sakit hati, atau sakit ingatan. Saya bayangkan, betapa harum baunya berlindung di balik ketiak Artalyta Ayin, bersama para “si” yang lain, termasuk “si tentara” intelijen Kodam.

Isteri saya adalah jaksa fungsional di Kejaksaan Negeri, dan sekarang di Kejaksaan Tinggi. Sewaktu saya mengucap bahwa Kejaksaan layaknya dibubarkan saja, isteri saya masih di Kejaksaan Negeri. Ucapan saya tersebut terbawa oleh perasaan emosi saya, dengan kenyataan yang saya persepsikan pada waktu itu bahwa:

1.      Isteri saya dan beberapa temannya yang kukenal, cara berpikirnya kurang sistematis, dalam melihat permasalahan selalu sepotong-potong; bagaimana bisa sistematik menganalisa permasalahan hukum?

2.      Dengan penggunaan komputer, berbagai macam surat dakwaan bisa dibuat “copy-paste”; dan dakwaan itu kan hanya perpanjangan dari BAP Kepolisian?

3.      Banyak jaksa-jaksa yang kalah dalam berdebat (kalah pintar?) dengan pengacara, yang menghasilkan banyak keputusan bebas dari pengadilan.

4.      Dulu, sewaktu isteri saya ikut seleksi penerimaan pegawai Kejaksaan, ternyata saingannya adalah sebagian besar alumni perguruan tinggi swasta; teman-teman kuliah isteri saya sendiri banyak yang tidak tertarik ke Kejaksaan, melainkan lebih menyukai ke Kehakiman, menjadi pengacara, atau menjadi Legal Officer di bank. Mungkin karena kerja di Kejaksaan lebih tidak menantang (proses berpikir)?

5.      Para pegawai di Kejaksaan Negeri banyak yang menggunakan ijazah SMA ketika masuk Kejaksaan, kemudian sambil bekerja sambil kuliah di Fakultas Hukum universitas swasta. Ketika lulus sebagai sarjana hukum, melakukan penyetaraan kepegawaian di Kejaksaan, kemudian mengikuti Pendidikan Pembentukan Jaksa selama 3 bulan, maka resmilah sebagai jaksa.

Pernyataan tersebut di atas hanyalah ungkapan sinisme dan kepicikan pemahaman saya waktu itu. Ternyata perkembangannya sekarang, saya menjadi bingung apakah saya yang terlalu sombong merendahkan kualitas Kejaksaan ataukah memang Kejaksaan merupakan suatu perkumpulan teater? Apabila diperlukan pentas, naik panggung pentas teater di Pengadilan. Apakah saat ini saya tidak berhak kecewa, sebagai warga negara Indonesia, melihat para petinggi Kejaksaan terbuai oleh harumnya bau ketiak Artalyta Ayin?

Kepada Bapak Jaksa Agung saya mohon maaf atas pernyataan saya ini. Mampukah Bapak memperbaiki kualitas Jaksa dan pegawai Kejaksaan mulai dari Kejaksaan Negeri sampai Kejaksaan Agung? Andai mampu, dari manakah harus memulainya? Alangkah lebih mudah membangun lagi yang baru (lembaga baru?) yang lebih bersih, dari pada harus membersihkan bangunan lama yang kotor.

Bagi para jaksa dan pegawai Kejaksaan, menanggapi pernyataan saya ini janganlah dengan emosi dan marah, karena saat ini sudah bukan saatnya lagi marah terhadap ucapan orang lain. Yang paling pas saat ini adalah introspeksi diri bila ada orang lain mengungkapkan pernyataan yang tak mengenakkan telinga. Karena, apabila kita menunjuk orang lain, satu jari bagi orang yang kita tunjuk, satu jari menuju ke tanah, dan tiga jari menunjuk diri kita sendiri.

Anda menderita asam urat atau rematik?

April 9, 2008

Penyakit rematik terdiri dari berbagai penyakit yang sebagian besar melibatkan persendian, baik yang sumber utama kelainannya berada di persendian maupun penyakit yang sumber utamanya di luar sendi. Penyakit rematik yang bersumber di luar sendi misalnya penyakit lupus (SLE).

Penyakit rematik persendian tidak berkaitan lengsung dengan faktor usia, walaupun sebagian besar penyakit itu diderita orang-orang tua. Penyakit rematik persendian (artritis) meliputi osteoartritis, artritis reumatoid, spondiloartrosis (kekakuan tulang belakang). Penyakit yang mengenai matriks tulang adalah osteoporosis (penurunan kepadatan matriks tulang).

Osteoartritis (OA) memiliki dasar kelainan berupa peradangan pada tulang rawan sendi sampai kerusakan atau bahkan hilangnya rawan sendi. Peradangan tersebut dapat menghasilkan timbunan cairan (bengkak) di rongga sendi, atau bahkan hilangnya cairan (penyempitan) rongga sendi.

Asam urat adalah sampah (hasil metabolisme) makanan yang mengandung purin. Asam urat dalam darah meingkat apabila belum sempat dikeluarkan melalui air kencing. Jadi kadar asam urat di dalam darah bersifat situasional/sesaat, yakni terutama saat sesudah makan.

Istilah asam urat sebetulnya kurang benar. Dalam bahasa Indonesia urat berarti serabut, misalnya urat saraf, urat otot, bahkan ada istilah bakso urat.

Asam urat dalam bahasa Inggris adalah uric acid, tetapi diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai asam urat.

Halo dunia!

April 5, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!